DLH Papua Barat Daya Minta Masukan Masyarakat untuk Proses AMDAL RS Rujukan Terbesar di Sorong
Sorong, Melanesiapost — Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) resmi memulai tahapan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk proyek pembangunan Rumah Sakit Rujukan Papua Barat Daya. Tahapan ini dilakukan setelah proses studi kelayakan, penataan masterplan, serta pembuatan Detail Engineering Design (DED) rampung dikerjakan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya sekaligus Ketua Tim Uji Kelayakan Lingkungan Hidup Julian Kelly. Kambu, ST.,M.Si menyampaikan bahwa proses penyusunan dokumen AMDAL ini mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
"Hari ini kami menyampaikan kepada publik—baik masyarakat di dalam maupun di luar Papua Barat Daya, mitra, pemerhati lingkungan, dan seluruh pemangku kepentingan—agar dapat memberikan saran dan masukan terkait rencana pembangunan rumah sakit ini," ujarnya saat berada di lokasi proyek Jl. Kesehatan, Kampung Baru, Senin (10/8/2026).
Kelly menjelaskan, kajian teknis AMDAL akan dijalankan oleh tim konsultan independen melalui sejumlah tahapan resmi, mulai dari mekanisme AMDAL Net, konsultasi publik, penyusunan dokumen analisis dampak, hingga penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).
Setelah dokumen selesai disusun oleh konsultan, Tim Uji Kelayakan Lingkungan Hidup akan menilai dokumen tersebut berdasarkan 10 kriteria kelayakan lingkungan, termasuk kesesuaian tata ruang daerah.
Masyarakat yang ingin berpartisipasi dapat menyalurkan aspirasinya secara tertulis melalui Sekretariat Tim Uji Kelayakan Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya.
DLH menyambut baik seluruh bentuk masukan, baik tanggapan positif maupun kritik teknis mengenai potensi dampak negatif—seperti sistem pengelolaan limbah medis dan penataan kawasan.
"Saran dan masukan yang sifatnya kritis atau negatif tentu kami terima, selama sifatnya substansial dan tidak bersifat provokatif atau memfitnah. Masukan ini sangat mendasar untuk diserahkan kepada tim konsultan agar dikaji secara obyektif," tegasnya.
Rencana gedung rumah sakit rujukan ini dirancang seluas kurang lebih 503.601 meter persegi dengan bangunan megah setinggi 5 lantai. Terletak di tepi pantai dengan lanskap pemandangan sorong modern city, fasilitas kesehatan ini dikonsepkan untuk memberikan kenyamanan psikologis bagi pasien selama proses pemulihan.
Kehadiran rumah sakit ini diproyeksikan menjadi pusat rujukan utama di Tanah Papua yang menjangkau wilayah Kabupaten Tambrauw, Raja Ampat, Kabupaten Sorong, Kota Sorong, Maybrat, hingga daerah sekitarnya seperti Maluku dan daerah Pasifik.
Guna menunjang operasional fasilitas medis modern tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya juga telah mengirimkan puluhan dokter spesialis untuk menjalani pendidikan lanjutan, yang nantinya siap bertugas saat rumah sakit beroperasi.
Langkah ini diharapkan mampu menekan angka rujukan pasien ke luar daerah, seperti ke Makassar, Jakarta, maupun luar negeri, sekaligus meningkatkan pemerataan akses layanan kesehatan bermutu di wilayah timur Indonesia.(Red)