Jaga Warisan Leluhur, Masyarakat Adat Malaumkarta Raya Gelar Prosesi Pembukaan Egek

Jaga Warisan Leluhur, Masyarakat Adat Malaumkarta Raya Gelar Prosesi Pembukaan Egek

SORONG, Melanesiapost – Masyarakat Hukum Adat (MHA) Malaumkarta Raya kembali menggelar prosesi adat pembukaan Egek, sebuah praktik konservasi tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Acara yang sarat akan nilai budaya ini dipusatkan di Pantai Kampung Malaumkarta, Kabupaten Sorong, pada Senin (4/5/2026).

Prosesi pembukaan ini dipimpin langsung oleh tua-tua adat Malaumkarta Raya. Momentum sakral ini disaksikan oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Sorong, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, serta berbagai mitra pembangunan dari organisasi non-pemerintah (NGO) dan LSM yang selama ini mendampingi wilayah tersebut.



Egek merupakan sistem konservasi tradisional suku Moi yang berfungsi sebagai simbol larangan pengambilan hasil alam dalam jangka waktu tertentu. Praktik ini berlaku baik untuk biota laut maupun satwa liar di hutan wilayah adat setempat. Setelah periode pelarangan selesai, masyarakat baru diperbolehkan memanen hasil alam tersebut secara bijaksana.

Ketua Perkumpulan Generasi Muda Malaumkarta, Torianus Kalami, menjelaskan bahwa pembukaan Egek kali ini difokuskan pada pemanenan hasil laut seperti lobster, teripang, serta siput atau kerang laut.

"Hasil panen ini nantinya akan digunakan untuk menopang pembangunan di Kampung Malaumkarta, baik pembangunan fisik seperti gedung gereja maupun program non-fisik lainnya bagi kesejahteraan masyarakat," ujar Torianus.



Hadir mewakili pemerintah daerah, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sorong, Luther Salamala, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi masyarakat Malaumkarta dalam menjaga kearifan lokal.

Ia berpesan agar budaya, hutan, dan laut tetap menjadi hak milik masyarakat adat yang harus dijaga dengan hati-hati. Menurutnya, pelestarian alam melalui Egek adalah investasi jangka panjang bagi masa depan Papua.

"Jangan tinggalkan air mata untuk anak cucu, tetapi tinggalkanlah mata air untuk generasi muda Malaumkarta di atas Tanah Malamoi," tegas Luther dalam sambutannya.

Prosesi ini berlangsung khidmat dengan antusiasme tinggi dari seluruh warga MHA Malaumkarta Raya. Keberhasilan praktik Egek ini diharapkan menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Papua Barat Daya dalam mengelola sumber daya alam berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan.(Red)