55 Tahun Injil di Kinti Elek: Dari Langkah Sunyi Welem Blesia, Generasi Pasir Putih Menuai Berkat dan Perubahan
Teminabuan Melanesia post Peringatan Hari Pekabaran Injil (PI) di Kinti Elek pada 1 Mei 2026 menjadi momentum reflektif yang tajam bagi generasi muda gereja untuk kembali menengok sejarah sunyi yang nyaris terlupakan. Sosok Welem Blesia, pemuda sederhana asal Kampung Eles, Distrik Sawiat, kembali disebut sebagai fondasi awal masuknya Injil di wilayah Lembah Kinti Elek (Fkour), yang kini mulai dirasakan buah pelayanannya oleh generasi saat ini.
Luksen Blessia, pemuda gereja, dalam keterangannya menegaskan bahwa sejarah Injil di tanah Kinti Elek bukanlah cerita instan, melainkan perjalanan panjang penuh pengorbanan yang sering luput dari ingatan generasi hari ini.
Injil yang hari ini kita nikmati di Kinti Elek bukan datang begitu saja. Ini adalah perjalanan panjang dari Manoi tahun 1855 hingga sampai ke Kinti Elek pada 1971 dan dalam sejarah itu, ada nama yang hampir dilupakan, tapi sangat penting dalam rencana Allah, yaitu Welem Blesia,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, Welem Blesia lahir pada tahun 1945 di Kampung Eles, Distrik Sawiat. Di usia yang masih sangat muda, tepatnya 26 tahun, ia memilih meninggalkan kenyamanan hidupnya untuk menjawab panggilan iman yang tidak semua orang berani ambil.
Di usia 26 tahun, saat banyak orang masih mencari jati diri, Welem justru diutus Tuhan menuju Lembah Fkour.
Ia berjalan kaki, mendaki gunung, melewati lereng, menembus keterbatasan tanpa fasilitas. Ini bukan perjalanan biasa, ini pengorbanan iman yang nyata,” tegas Luksen.
Menurutnya, tanggal 1 Mei 1971 menjadi titik sejarah penting ketika Welem akhirnya tiba di Kinti Elek, sebuah wilayah yang saat itu masih terisolasi. Di sanalah benih Injil pertama kali ditaburkan.
Pada 01 Mei 1971, saat ia tiba di Kinti Elek, tidak ada sambutan meriah, tidak ada panggung besar. Tapi justru di situlah benih Injil mulai ditanam. Hari ini kita memperingatinya, tapi jangan sampai kita hanya merayakan tanpa memahami pengorbanan di baliknya,” ujarnya.
Luksen juga menekankan bahwa Welem Blesia bukanlah tokoh besar secara duniawi. Ia bukan pendeta terkenal, bukan raja, bahkan bukan figur publik. Namun justru dari kesederhanaannya, ia dipakai dalam rencana besar Tuhan.
Welem bukan nabi besar, bukan raja, bukan pendeta terkenal. Dia hanya masyarakat biasa. Tapi justru di situlah letak kekuatan panggilannya kesetiaan.
Dunia mungkin tidak mengenalnya, tapi Tuhan memakainya untuk menanam sesuatu yang hari ini kita nikmati,” katanya.
Ia mengkritik cara pandang generasi sekarang yang cenderung mengukur nilai seseorang dari popularitas dan pencapaian, sementara melupakan esensi kesetiaan dalam proses.
Hari ini banyak orang ingin dikenal, ingin tampil, ingin di atas panggung. Tapi lupa bahwa ada orang-orang seperti Welem yang dipanggil bukan untuk dikenal, tapi untuk menjadi fondasi. Dia menanam, dan kita hari ini menuai. Itu fakta yang tidak boleh kita abaikan,” tegasnya lagi.
Lebih lanjut, ia mengajak generasi muda gereja untuk tidak meremehkan peran kecil dalam pelayanan, karena setiap proses memiliki nilai dalam rencana Tuhan.
Tidak semua orang dipanggil berdiri di depan. Ada yang dipanggil menanam, ada yang dipanggil menjadi dasar. Kesetiaan hari ini bisa menjadi warisan bagi generasi berikutnya.
Apa yang kita lakukan sekarang mungkin belum terlihat, tapi suatu saat akan berdampak besar,” jelas Luksen.
Dalam refleksi peringatan PI Kinti Elek ke-55 tahun ini, Luksen menegaskan bahwa kisah Welem Blesia adalah teguran keras bagi generasi yang mulai melupakan sejarah dan kehilangan arah dalam pelayanan.
Kalau hari ini kita menikmati Injil, gereja, dan persekutuan, itu bukan karena kita hebat. Itu karena ada orang-orang seperti Welem yang rela berjalan jauh, menderita, dan tetap setia.
Jadi jangan sombong dengan posisi hari ini, karena kita hanya sedang menikmati hasil dari pengorbanan orang lain,” ujarnya dengan nada kritis.
Ia pun menutup dengan pesan reflektif bagi generasi muda agar tidak terjebak dalam keinginan untuk dikenal, melainkan fokus pada kesetiaan dalam panggilan.
Tuhan tidak pernah meminta kita untuk terkenal. Tuhan hanya meminta kita untuk setia. Kalau dunia melupakan kita, itu tidak masalah.
Asal Tuhan mengenal nama kita, itu sudah lebih dari cukup. Welem Blesia sudah membuktikan itu,” pungkasnya.
Hari ini kami masyarakat Distrik Fkour, Kampung Kinti Elek atau Pasir Putih, menyatakan syukur yang tidak bisa diukur dengan kata kata tapi injil yang dulu ditanam dengan air mata dan perjuangan, hari ini telah melahirkan generasi yang sadar, berpendidikan, dan mampu berdiri sejajar ini bukan kebetulan, ini buah dari kesetiaan yang panjang,” tegasnya
Dari tanah yang dulu terisolasi, kini lahir banyak orang pintar guru, pegawai, pemimpin, bahkan tokoh-tokoh penting daerah.
Ini menjadi bukti bahwa Injil bukan hanya soal iman, tetapi juga membuka jalan bagi perubahan hidup, pendidikan, dan masa depan masyarakat Kinti Elek,” lanjutnya
Kami juga tidak lupa sejarah, bahwa dari wilayah Sawiat Raya pernah lahir sosok DPR pertama yang menjadi representasi suara masyarakat
Itu bukan sekadar jabatan, tapi bukti bahwa benih Injil yang ditanam telah mengangkat martabat orang-orang dari Pasir Putih untuk berbicara di ruang kekuasaan.
Rahasia keberhasilan itu bukan pada kekuatan manusia semata, tetapi pada kekuatan Injil itu sendiri dan hari ini injil adalah kekuatan Allah yang mengubah cara berpikir, membentuk karakter, dan mendorong kami keluar dari keterbelakangan.
Tanpa Injil, mungkin kami tidak akan sampai di titik ini,” tambahnya menegaskan.
Karena itu, sebagai generasi Pasir Putih hari ini, kami tidak boleh lupa akar sejarah. Jangan sampai kita menikmati hasil, tetapi melupakan perjuangan.
Injil telah menjadi fondasi kehidupan kami dan tugas kami sekarang adalah menjaga, merawat, dan meneruskan warisan itu, bukan malah mengabaikannya.
Peringatan 01 Mei 1971 – 01 Mei 2026 di Kinti Elek bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa sejarah besar sering dimulai dari langkah kecil yang setia—langkah yang hari ini menuntut generasi penerus untuk tidak lupa, tidak lalai, dan tidak kehilangan arah dalam iman.(GK)