Anak Papua Tembus Panggung Nasional, Berangkat Tanpa Support Pemda: Acho Ansanay Tetap Melawan Keterbatasan”

Anak Papua Tembus Panggung Nasional, Berangkat Tanpa Support Pemda: Acho Ansanay Tetap Melawan Keterbatasan”

Jakarta Melanesia post Ketika nama Papua dibawa ke panggung nasional, semestinya pemerintah daerah berada di barisan terdepan untuk memberikan dukungan. Namun pengalaman berbeda disampaikan Acho Ansanay, delegasi Provinsi Papua dalam Jambore Nasional Perfilman Desa 2026 di Desa Karang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.


Acho mengaku harus berjuang dengan kemampuan sendiri untuk hadir dalam kegiatan nasional tersebut. Di tengah keterbatasan dukungan pemerintah daerah, ia tetap memilih berangkat dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pada 26–29 Agustus 2026.


Lebih dari 60 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam jambore tersebut. Mereka datang membawa karya, gagasan, pengalaman, serta semangat untuk mengembangkan perfilman berbasis desa.


Acho datang dari Tanah Papua dengan membawa lebih dari sekadar identitas sebagai peserta. Ia membawa cerita Papua, membawa pengalaman berkarya, dan membawa harapan agar perfilman dari Papua semakin dikenal di tingkat nasional.

Namun di balik kehadirannya terdapat sebuah pertanyaan besar: mengapa seorang anak muda yang telah mendapatkan kesempatan membawa nama Papua ke tingkat nasional justru mengaku belum mendapatkan dukungan pemerintah daerah?

Jujur, ada sedikit kekecewaan karena sebagai delegasi dari Papua saya berharap ada perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah. Tetapi saya tidak ingin menjadikan itu sebagai alasan untuk berhenti. Saya memilih tetap optimis dan berjuang dengan kemampuan yang saya miliki,” ujar Acho Ansanay melalui panggilan selulernya.(30/8/2026).

Pernyataan Acho tersebut bukan sekadar keluhan pribadi. Di dalamnya terdapat persoalan yang lebih luas mengenai bagaimana pemerintah daerah memberikan ruang dan perhatian kepada generasi muda Papua yang bergerak di sektor kebudayaan dan ekonomi kreatif.

Menurutnya, dukungan pemerintah dapat hadir dalam berbagai bentuk. Pemerintah bisa membuka akses pelatihan, menyediakan fasilitas produksi, memberikan ruang kreatif, membantu membangun jaringan, mempromosikan karya, serta menciptakan kebijakan yang mendorong anak muda Papua berkembang.

Kami tidak hanya bicara soal uang. Yang kami butuhkan juga adalah perhatian, ruang, fasilitas, jaringan dan kesempatan. Kalau pemerintah daerah serius melihat perfilman sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan kebudayaan, maka harus ada kebijakan yang jelas untuk mendukung anak-anak muda yang bergerak di bidang ini,” katanya.(30/8/2026).

Acho menilai, anak muda Papua tidak boleh hanya dijadikan objek ketika pemerintah membutuhkan slogan tentang generasi muda dan ekonomi kreatif.

Jangan hanya bicara anak muda sebagai masa depan Papua. Kalau memang kami adalah masa depan Papua, maka proses kami hari ini juga harus diperhatikan. Jangan menunggu kami berhasil baru kemudian pemerintah datang dan mengatakan bangga,” tegasnya.

Ia sebelumnya berhasil meraih Juara II Festival Film Desa Tingkat Nasional dari 364 peserta se-Indonesia melalui film “Negeri Gerabah Kampung Abar” Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa karya yang lahir dari Tanah Papua mampu bersaing dengan karya dari berbagai daerah di Indonesia.

Saya bersyukur pernah mendapatkan Juara II tingkat nasional. Bagi saya itu bukan akhir, tetapi awal untuk terus belajar. Saya ingin karya dari Papua semakin banyak tampil di tingkat nasional,” katanya.

Film tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa cerita dari kampung di Papua memiliki kekuatan ketika dikemas secara kreatif.

Menurut Acho, Papua memiliki kekayaan cerita yang sangat besar. Kampung-kampung, masyarakat adat, tradisi, budaya, lingkungan, kehidupan sosial, makanan lokal, hingga kisah anak muda Papua merupakan sumber cerita yang tidak pernah habis.

Papua ini sebenarnya kaya dengan cerita. Banyak sekali yang belum difilmkan. Kita punya budaya dan kehidupan masyarakat yang sangat kuat. Tinggal bagaimana anak-anak muda diberikan ruang untuk menceritakannya melalui film,” ujarnya.

Acho berharap pemerintah daerah tidak hanya melihat prestasi sebagai sesuatu yang muncul tiba-tiba Di balik satu penghargaan nasional terdapat proses panjang yang membutuhkan tenaga, waktu, biaya, keberanian, dan konsistensi.

Kalau kita hanya melihat piala, kita tidak melihat perjuangannya. Sebelum mendapatkan penghargaan, ada proses yang panjang. Karena itu saya berharap pemerintah bisa hadir dalam proses tersebut, bukan hanya ketika hasilnya sudah terlihat,” katanya.

Menurutnya, jika pemerintah benar-benar ingin membangun sumber daya manusia Papua, sektor kreatif harus mendapat perhatian yang serius.

Jangan sampai pembangunan hanya diukur melalui jalan, gedung, atau infrastruktur fisik, sementara kreativitas dan kemampuan anak muda justru dibiarkan berkembang tanpa dukungan yang memadai.

Anak muda yang membuat film juga sedang membangun Papua. Kami membangun melalui cerita, budaya, kreativitas dan karya. Mungkin bentuknya berbeda dengan pembangunan fisik, tetapi dampaknya juga penting untuk masa depan Papua,” kata Acho.

Kisah Acho kemudian membuka ruang pertanyaan yang lebih besar kepada pemerintah daerah dan Jika seorang anak muda telah memiliki prestasi nasional dan mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan perfilman tingkat nasional, di mana sistem pembinaan pemerintah terhadap talenta-talenta seperti ini?

Apakah sudah ada pendataan terhadap anak muda Papua yang berprestasi di bidang film?Apakah ada program pembinaan sineas muda Papua?

Apakah pemerintah daerah memiliki skema bantuan atau fasilitasi bagi anak muda yang mewakili daerah dalam kegiatan nasional?

Dan yang paling penting, apakah prestasi anak muda Papua benar-benar dianggap sebagai investasi sumber daya manusia atau hanya dipandang sebagai prestasi pribadi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab agar perjuangan anak muda Papua tidak terus bergantung pada kemampuan pribadi.

Acho sendiri memilih tidak menunggu jawaban tersebut untuk melangkah.

“Saya tetap jalan. Kalau saya menunggu semuanya sempurna, mungkin saya tidak akan pernah berangkat. Saya memilih menggunakan apa yang saya punya dan tetap membawa nama Papua,” ujarnya.

JANGAN SAMPAI ANAK PAPUA HANYA DIBANGGAKAN SETELAH MENANG

Acho berharap pemerintah daerah ke depan lebih aktif mencari dan mendukung anak-anak muda yang memiliki kemampuan di berbagai bidang.

Menurutnya, banyak talenta Papua yang sebenarnya mampu berprestasi, tetapi tidak memiliki akses dan kesempatan.

Banyak anak Papua yang punya kemampuan. Mungkin mereka tidak terlihat karena tidak punya fasilitas dan jaringan. Pemerintah seharusnya hadir untuk mencari, membina dan membuka ruang bagi mereka,” katanya.

Ia juga mengajak anak muda Papua untuk tidak takut keluar dari zona nyaman dan memperkenalkan karya mereka di tingkat nasional.

“Jangan takut membawa nama Papua. Kita harus berani menunjukkan bahwa Papua punya kemampuan. Kita harus keluar, belajar, membangun jaringan, lalu kembali membawa pengetahuan untuk dikembangkan di Papua,” katanya.

Pada akhirnya, perjalanan Acho ke Karanganyar menjadi gambaran tentang dua sisi realitas generasi muda Papua dan Di satu sisi, ada potensi dan prestasi yang mampu menembus tingkat nasional.

Di sisi lain, masih ada persoalan dukungan yang membuat sebagian anak muda harus berjuang sendiri.

Acho tidak memilih berhenti dan Ia tidak memilih menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah.

Ia justru menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk membuktikan bahwa anak Papua mampu berdiri di panggung nasional.

Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Saya akan terus berkarya dan terus membawa cerita Papua. Mudah-mudahan perjuangan ini bisa membuka jalan bagi anak-anak muda Papua lainnya,” ujarnya.

Kini, dari Desa Karang, Karanganyar, Jawa Tengah, Acho membawa pulang pengalaman dan jaringan baru tetapi ada pesan yang lebih besar yang ikut dibawanya pulang ke Tanah Papua:

Bahwa anak muda Papua mampu Yang dibutuhkan bukan sekadar tepuk tangan setelah mereka berhasil Yang dibutuhkan adalah keberpihakan ketika mereka sedang berjuang.

Sebab pemerintah daerah tidak seharusnya hanya hadir untuk merayakan keberhasilan. Pemerintah juga harus hadir ketika anak-anak mudanya sedang membangun jalan menuju keberhasilan tersebut Dan perjuangan Acho menjadi pengingat:

Jangan tunggu anak Papua menjadi juara baru kemudian pemerintah mengatakan bangga. Dukung mereka ketika mereka sedang berjuang, karena prestasi nasional tidak lahir dari tepuk tangan prestasi lahir dari proses panjang yang membutuhkan keberanian dan dukungan.

Dari Tanah Papua, Acho memilih melangkah Tanpa menunggu keadaan menjadi sempurna tanpa menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah Ia membawa karya, budaya, cerita dan nama Papua ke panggung nasional.

Dari Papua ke Karanganyar. Dari kampung menuju panggung nasional. Dari cerita Papua untuk Indonesia dan dunia.(GK)