Bangkit Melawan Sekarang Juga”: Aktivis Musell M Safkaur Serukan Gelombang Nobar ‘Pesta Babi’ dan Perlawanan Rakyat Papua

Bangkit Melawan Sekarang Juga”: Aktivis Musell M Safkaur Serukan Gelombang Nobar ‘Pesta Babi’ dan Perlawanan Rakyat Papua

Sorong Melanesia post Aktivis dan kritikus sosial Papua, Musell M Safkaur, melontarkan seruan panjang dan keras kepada generasi muda Papua di berbagai wilayah agar tidak tinggal diam menghadapi situasi yang berkembang di tanah Papua. Dalam tulisan bernada kritik tajam dan seruan perlawanan itu, Musell menilai banyak anak muda Papua justru pasif di tengah meluasnya pemutaran film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di berbagai daerah di Indonesia.

Kabupaten Sorong Selatan di Teminabuan kemana? Tambrauw kemana? Apalagi Raja Ampat? Woii anak-anak muda disana, kalian masih hidup atau sudah mati? Di saat jutaan orang berduyun-duyun menyaksikan tanah Papua dari dekat, kalian malah tiduran santai. Terlalu enak bagaimana sampai lupa dengan situasi yang tengah berkembang saat ini? Aneh tapi nyata,” tulis Musell. Saat di wawancarai.(16/5/2026).

Ia menyebut, di saat jutaan orang di Indonesia berbondong-bondong menyaksikan film Pesta Babi, justru banyak generasi muda Papua yang dinilai diam dan tidak mengambil bagian dalam penyelenggaraan nonton bareng (nobar) di daerah masing-masing.

Di saat jutaan orang di seluruh Indonesia berbondong-bondong menyaksikan Pesta Babi, kalian malah tidur lelap. Kalian generasi muda untuk apa sekolah kalau naluri untuk menengok sejarah bangsamu sendiri kalian tidak mampu? Apa susahnya menyurati Watch Dock atau Indonesia Biru lalu menyelenggarakan nobar di tempat masing-masing? Malu dong sama semua orang di muka bumi Indonesia ini yang berani selenggarakan nobar, tapi kalian anak negeri malah diam seperti tikus kena hujan,” tegasnya.

Musell kemudian menyinggung sejumlah wilayah di Papua yang menurutnya belum aktif menggelar nobar maupun membangun kesadaran rakyat melalui pemutaran film tersebut. Ia menyebut wilayah Wondama, Fak-Fak, Waropen, Serui, Biak, hingga Lembah Grime dan Papua Tengah.

Anak-anak muda di Wondama pun demikian. Fak-Fak juga sama. Waropen apalagi. Serui, Biak, dan seterusnya. Anak-anak di Lembah Grime kalian apa kabar, masih hidup k? Dogiyai, Paniai, Deiyai, dan seluruh wilayah Papua Tengah yang belum selenggarakan nobar, apa kabar? Bangun dari tidurmu yang panjang, fajar sudah hampir terbit, sang fajar yang kita nantikan sudah hampir merekah. Masih mau tunggu waktu lama lagi k?” tulisnya lagi.

Dalam seruan itu, Musell juga mengajak masyarakat di wilayah Pegunungan Papua untuk mulai menyelenggarakan nobar secara mandiri sebagai sarana pendidikan rakyat mengenai situasi Papua.

Anak-anak muda di Yalimo, Yahukimo, Wamena, Pegunungan Bintang, selenggarakan nobar itu tidak susah. Kumpul 10 masyarakat, hubungi redaksi, dan putar film untuk masyarakat lihat dong pu tanah ini.

 Tanah ini masih baik-baik atau sudah hancur k? Dong setiap hari hadapai operasi militer itu kenapa, masalahnya apa, jawabannya kasi lihat dong film ‘Pesta Babi’,” katanya.

Ia juga menyerukan kepada masyarakat di wilayah Aifat dan Maybrat untuk tidak hanya sibuk mengurus program pemerintahan, tetapi mengambil momentum yang ada untuk melakukan pendidikan politik kepada masyarakat melalui pemutaran film dokumenter tersebut.

Anak-anak Aifat selain zona perang, dari Kumurkek, Bori, dst kam bikin apa? Urus dana desa k? Itu tidak penting. Keluar dan berani selenggarakan nobar di tempat-tempatmu. Momentum yang ada sambut dengan didikan kepada rakyat. Militer tidak akan kasi bubar kamu, karena kita hanya nobar fakta-fakta yang tersaji melalui film. 

Kalau dong kasi bubar, rekam dorang dan jadikan itu hukuman publik bagi dorang. Mata dunia, mata internasional sedang mengawasi Papua, gunakan waktu yang ada untuk mendidik rakyat,” tulis Musell.

Menurutnya, satu kali pemutaran film dapat berkembang menjadi gelombang kesadaran yang jauh lebih besar di tengah masyarakat.

Mungkin hanya sekali lewat nobar, tapi satu kali bisa berubah menjadi 1000x. Air yang tenang bisa berubah menjadi arus yang dahsyat. Sungai yang landai bisa berubah menjadi arus yang sangat dahsyat,” lanjutnya.

Musell juga menyerukan kepada masyarakat di Jayapura, Sorong, Merauke, hingga Manokwari agar tidak hanya melakukan nobar dalam kelompok kecil, tetapi mulai membangun gerakan yang lebih luas.

“Jayapura Kota, keluar dari nobar di tempat-tempat kecil dan serukan perlawanan terbuka. Sorong pun demikian. Apalagi Merauke yang selama ini tidur terlalu miring, bangunlah segera, hari ini juga, dan siapkan barisan untuk momentum yang ada. 

Anak-anak di Amban Manokwari masih hidup k? Wosi dan sekitarnya? Kalau masih ada, kalau sudah nonton, serukan rakyat untuk turun ke jalan. Jangan tunda api yang sudah menyala menjadi redup haru bangkitkan semangat itu, dan raih kemenangan hari ini juga,” katanya.

Dalam tulisannya, Musell turut menyinggung Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menurutnya terus merusak hutan, tanah, air, dan ruang hidup masyarakat adat Papua.

Momentum yang ada kalau tidak disambut dengan ledakan yang luar biasa, maka PSN akan terus merajalela di Papua. Lihat hutan kita sudah tipis, air kita sudah keruh, udara kita semakin kotor, tanah kita sudah dimakan habis oleh Babi-Babi Jakarta.

 Apakah ko masih harus diam sampai kita hancur dulu baru bertindak? Tidak! Hari ini rakyat tengah bangkit di mana-mana; Pesta Babi menjembatani itu, kita harus bersuara, gunakan momentum yang ada untuk bangkitkan perlawanan di seluruh tanah Papua,” tulisnya.

Ia juga menyindir kelompok-kelompok perjuangan Papua yang menurutnya lambat membaca momentum politik dan sosial yang sedang berkembang.

Gerakan Papua Merdeka, apa yang ko tunggu lagi? Ko tunggu emas turun baru ko bersuara? Ko belajar teori gunakan momentum, lalu ini sekarang apa? Bukan momentum k? Keluar dari gaya lambat itu, keluar dari babingung itu, sambut momentum yang ada.

 Kalau tiap hari cari solusi untuk melawan, maka sekarang barang sudah siap. Ko mau tunggu apa lagi? Papua Merdeka tidak jatuh dari langit, jembatani keresahan massa saat ini dan hubungkan dengan apa yang jadi cita-cita kita,” tegasnya.

Lebih lanjut, Musell menilai gerakan rakyat harus lebih peka dan mampu memimpin masyarakat dalam melawan berbagai bentuk ketidakadilan yang terjadi di Papua.

Jadi gerakan itu harus peka, jangan mati suri, gerakan lambat, selalu di belakang, tapi mari ambil posisi yang ada dan pimpin rakyat kita kepada perlawanan yang bermartabat. 

Perlawanan untuk mengusir babi-babi yang berpesta di tanah kita. Mengusir semua yang jahat, dan biarkan negeri pemberian Tuhan ini bagi anak-anak cucu kita yang hitam manis rambut keriting dan tuhan sudah sayang kita, sekarang waktunya gunakan otak itu untuk berpikir,” tulisnya.

Ia juga mempertanyakan sikap masyarakat yang sudah menonton film tersebut namun belum mengambil tindakan lanjutan.

Yang sudah nobar Pesta Babi juga, setelah nonton terus ko diam k? Ko tra ambil tindakan apa-apa begitu? Nonton, sadar, lalu diam? Bro, iman tanpa perbuatan adalah sia-sia! Sadar tanpa perbuatan adalah omong kosong! Nonton, sudah sadar, berarti waktunya melawan.

 Ko takut apa? Ko takut siapa? Tanah kita punya, kenapa ko takut orang asing yang datang dengan senjata? Dong bisa sakiti kita, tapi itu akan berubah menjadi pupuk yang kasih subur tanaman,” katanya.

Musell kemudian menyerukan agar masyarakat Papua tidak lagi berharap kepada elit politik lokal maupun lembaga-lembaga pemerintahan.

Keluar, keluar, dari rasa takutmu. Waktunya melawan, waktunya anak-anak Papua berdiri di garda terdepan untuk bicara haknya sendiri. Ko berharap gubernur k? Ko harap DPR k? Ko harap MRP k? Selama ini dong ada bikin apa baru ko masih harap dong? Woi, keluar dari ilusi itu. 

Sejarah adalah hasil ciptaan orang banyak, massa, rakyat, bukan segelintir elit. Mereka ini, elit-elit lokal, terlalu lemah untuk lawan Jakarta. Mereka itu budak Jakarta, maka waktunya ko anak Papua sendiri yang bersuara demi ko pu tanah sendiri,” tulisnya lagi.

Dalam bagian akhir tulisannya, Musell menggambarkan situasi Papua sebagai tanah yang sedang dirampas dan dirusak, lalu menyerukan kebangkitan rakyat untuk melawan.

Ko masih mau diam k? Ko masih mau hidup santai-santai k? Lihat tanahmu sudah dirampas habis. Tanah mu sudah dicabik-cabik. Ibu bumimu diperkosa tanpa ampun. Rahimnya dibelah, darah bercucuran, dan air mata menetes.

 Sebagai anak bangsa Papua, ko masih mau diam k? Diam sampai kapan? Bangkit, bangkit, bangkit, dan melawan sekarang juga! Waktunya sudah tiba, bangkit, bangkit dan melawan sekarang juga!” tegasnya.

Ia menutup tulisannya dengan keyakinan bahwa kebangkitan rakyat Papua telah dinubuatkan dan hanya dapat terwujud apabila rakyat mengambil tindakan nyata.

Seperti yang dinubuatkan oleh para nabi, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri. Waktunya kapan? Waktunya sekarang, hari ini juga, asal ko berani keluar dan melawan. Rakyat Papua organisir dirimu sekarang juga dan bangkit melawan. 

Waktu yang dinubuatkan oleh para nabi sudah hampir tiba, sekarang keluar dan gapai itu. Papua baru hanya bisa terwujud apabila rakyatnya melawan,” tulisnya.

Saya tulis ini bicara dengan semangat 200 kali lipat dari sebelumnya, bahwa Pesta Babi sudah mengarahkan arus kesadaran baru, tapi bagaimana rakyat harus keluar sekarang dan bangkit melawan. 

Kita tunduk tertindas, diam kita mati, maka lebih baik mati dalam perlawanan untuk mempertahankan tanah ini! Tanah air atau mati, hanya satu kata, Papua Merdeka!” tutup Musell M Safkaur. (GK)