Membludak, Nobar Film Dokumenter 'Pesta Babi' di Sorong Jadi Alarm Proteksi Tanah Adat Papua

Membludak, Nobar Film Dokumenter 'Pesta Babi' di Sorong Jadi Alarm Proteksi Tanah Adat Papua

SORONG, Melanesiapost – Antusiasme masyarakat Kota Sorong melonjak drastis dalam aksi solidaritas yang digelar oleh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Barikade 98 Papua Barat Daya bersama Komunitas Pemuda RSK Km.12 Kota Sorong. Mereka menggelar kegiatan Nonton Bareng (Nobar) Film Dokumenter berjudul "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" pada Rabu malam (13/5/2026).

Acara yang berlangsung pukul 19.00 WIT di Sekretariat DPD Partai Hanura Papua Barat Daya, Kompleks RSK Km. 12 Kota Sorong ini, bertujuan untuk memantik kesadaran masyarakat luas mengenai isu perampasan wilayah adat yang tengah marak terjadi di Tanah Papua.

Meskipun awalnya panitia memproyeksikan kehadiran peserta dalam jumlah yang terbatas, kehadiran warga Kota Sorong ternyata di luar ekspektasi. Berdasarkan data penyelenggara, jumlah penonton yang hadir melonjak tajam dari target awal.

  • Target Awal: Minimal 10 orang per kelompok penyelenggara.
  • Kehadiran Awal: Diperkirakan sekitar 20 orang.
  • Total Penonton: Melonjak hingga lebih dari 100 orang pada malam pelaksanaan.

Lonjakan ini mengakibatkan seluruh kursi yang disediakan panitia terisi penuh, bahkan kapasitas ruangan tidak lagi mampu menampung seluruh peserta yang terus berdatangan.


Kegiatan ini dihadiri oleh lintas komponen masyarakat, mulai dari kelompok pemuda dan komunitas dari Kabupaten Sorong, Tambrauw, Maybrat, hingga Raja Ampat. Turut hadir pula tokoh akademisi dari Kampus Nani Bili Nusantara Kabupaten Sorong, praktisi hukum (lawyer), komunitas mama-mama pinang, kelompok gerakan tani Kabupaten Sorong, tokoh perempuan, mahasiswa, hingga anak-anak sekolah.

Koordinator DPW Barikade 98 Papua Barat Daya, Filep Imbir, menjelaskan bahwa agenda ini bukan sekadar pertunjukan budaya biasa, melainkan sebuah refleksi atas peristiwa kemanusiaan dan alarm bagi masyarakat adat.

"Film Pesta Babi ini bukan saja berbicara tentang budaya, tapi ini adalah alarm bagi seluruh masyarakat untuk kembali membangun solidaritas pemuda dan masyarakat umum secara luas dalam menyikapi persoalan tanah adat yang terjadi di Indonesia," ujar Filep saat ditemui di lokasi kegiatan.

Filep secara khusus menyoroti kondisi memprihatinkan yang menimpa masyarakat adat di Papua Selatan, seperti di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Suku-suku seperti Suku Muyu dan Suku Awyu disebut menjadi korban atas pengambilan wilayah adat secara sepihak demi kepentingan program-program besar negara.

Melalui dokumenter ini, masyarakat diajak untuk melihat Papua lebih dekat lewat kacamata kehidupan nyata masyarakat adat itu sendiri, bukan melalui stigma atau informasi sepihak. Film ini juga memberikan pesan moral bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kebersamaan, rasa saling membantu, dan penghargaan terhadap sesama.

"Sebagai anak Papua, kami berharap solidaritas yang dibangun di tingkat pemuda dan masyarakat umum ke depannya bisa memproteksi angka penyerobotan hak-hak wilayah adat yang dianugerahkan Tuhan bagi masyarakat Papua," tegas Filep.

Melihat respons positif dan perhatian serius dari warga kota, Filep berharap momentum edukasi ini tidak berhenti di Kota Sorong saja. Ke depan, pihak penyelenggara berkomitmen untuk membawa pemutaran film ini ke wilayah lain di Provinsi Papua Barat Daya, seperti Kabupaten Raja Ampat, Maybrat, dan Tambrauw.

"Wilayah-wilayah tersebut perlu mendapat edukasi yang baik dan benar dalam menjaga wilayah adat mereka dari perampasan paksa atas nama program pusat, agar tidak mengalami nasib yang sama seperti saudara-saudara kita di Papua Selatan," tambahnya.

Di akhir acara, Panitia Pelaksana Nobar, Donald Renato Heipon, menyampaikan apresiasi tinggi dan terima kasih kepada DPD Partai Hanura Papua Barat Daya atas dukungan fasilitas tempat. Ucapan terima kasih juga dialamatkan kepada seluruh narasumber, masyarakat yang hadir, serta seluruh pihak yang menyukseskan acara ini.

Secara keseluruhan, kegiatan Nobar Film Dokumenter Pesta Babi berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif hingga akhir acara. Penyelenggara menutup kegiatan dengan membawa satu pesan penting: "Papua Bukan Tanah Kosong."(Red)