BRI dan Pemuda Bersatu Selamatkan Muara Saflas, Angkut 29 Kantong Sampah Plastik Jelang HUT Sorong Selatan
Teminabuan, Melanesia post - Peringatan HUT ke-23 Kabupaten Sorong Selatan seharusnya tidak hanya diwarnai panggung perayaan dan seremoni. Pesan itu disampaikan puluhan pemuda pegiat lingkungan yang memilih turun langsung membersihkan Muara Saflas di Sungai Kaiubus, Teminabuan, Rabu (5/8/2026). Dengan mengumpulkan 29 kantong sampah plastik, mereka mengingatkan Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan bahwa hadiah terbaik bagi daerah bukanlah pesta, melainkan keberanian menyelamatkan laut, sungai, dan ekosistem yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih dua jam, mulai pukul 16.30 hingga 18.00 WIT tersebut melibatkan sekitar 30 hingga 40 peserta. Mereka berasal dari Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) GMKI Sorong Selatan, GMNI Sorong Selatan, Gerakan Pemuda Ampera (Gempar), serta mendapat dukungan dan partisipasi langsung dari perwakilan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Teminabuan.
Aksi tersebut bukan sekadar rangkaian menyambut Hari Ulang Tahun ke-23 Kabupaten Sorong Selatan maupun peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, melainkan bagian dari gerakan berkelanjutan yang telah dijadwalkan para pemuda sebagai bentuk tanggung jawab moral menjaga lingkungan pesisir dan menyelamatkan habitat biota endemik yang semakin terancam oleh pencemaran sampah plastik.
Dalam aksi tersebut, sebanyak 29 kantong sampah plastik berhasil dikumpulkan dari kawasan muara. Sampah-sampah itu kemudian dimuat menggunakan perahu menuju Pelabuhan Lama Teminabuan sebelum dipindahkan ke truk milik Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sorong Selatan untuk selanjutnya dibuang ke tempat pengelolaan sampah.
Ketua GMKI Sorong Selatan sekaligus perwakilan Pemuda Pegiat Lingkungan, Govon A. Lemauk, menegaskan bahwa perjuangan menjaga lingkungan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata. Menurutnya, aksi bersih-bersih laut merupakan bentuk kepedulian nyata generasi muda terhadap masa depan ekosistem pesisir Sorong Selatan.
Harapan saya, perjuangan kami tidak berhenti sampai di sini. Gerakan ini akan terus berjalan karena sudah menjadi agenda tetap setiap tanggal lima di setiap bulan.
Kegiatan ini juga sejalan dengan edaran Bupati Sorong Selatan dalam rangka menyambut HUT RI dan HUT Kabupaten Sorong Selatan melalui aksi bersih-bersih lingkungan. Kami memilih fokus membersihkan sampah laut karena ancaman yang dihadapi ekosistem pesisir semakin nyata.
Kami berharap Pemerintah Daerah Sorong Selatan tidak hanya memberikan dukungan secara simbolis, tetapi juga menghadirkan langkah-langkah konkret untuk menyelamatkan hewan-hewan laut dari ancaman sampah plastik," tegas Govon.
Ia menjelaskan bahwa kawasan Muara Saflas merupakan habitat penting bagi berbagai biota endemik yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir, seperti udang, kepiting (keraka), dan ikan sembilan. Apabila pencemaran plastik terus dibiarkan, maka kerusakan ekosistem akan semakin sulit dipulihkan.
Menurut Govon, sampah plastik yang terbawa arus sungai menuju laut bukan hanya merusak keindahan kawasan pesisir, tetapi juga berpotensi membunuh satwa laut yang tanpa sadar memakan limbah plastik tersebut.
Sementara itu, perwakilan Gerakan Pemuda Ampera (Gempar), Abd. Khalid A, mengatakan bahwa persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan hanya oleh pemerintah ataupun komunitas tertentu.
Dibutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat agar persoalan lingkungan dapat ditangani secara berkelanjutan.
"Di era sekarang, kerja-kerja kolaboratif dan partisipatif harus semakin diperkuat. Pemerintah, komunitas, dunia usaha, lembaga pendidikan hingga masyarakat harus berjalan bersama.
Persoalan sampah plastik bukan lagi masalah kecil karena Indonesia termasuk negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar di dunia. Karena itu setiap komunitas yang bergerak menjaga lingkungan harus mendapat dukungan dari semua pihak.
Perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten seperti yang kita lakukan hari ini," ujarnya.
Ia berharap gerakan seperti ini tidak hanya menjadi kegiatan bulanan, tetapi mampu melahirkan kesadaran kolektif masyarakat agar tidak lagi membuang sampah ke sungai maupun ke laut.
Dukungan terhadap gerakan tersebut juga datang dari dunia perbankan. Perwakilan Bank BRI Cabang Teminabuan, Maria Kambuaya, mengatakan bahwa kehadiran BRI merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada ekonomi masyarakat, tetapi juga pelestarian lingkungan hidup.
BRI bukan hanya peduli terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui dukungan kepada UMKM, tetapi kami juga memiliki kepedulian besar terhadap kelestarian lingkungan. Lingkungan yang bersih akan melahirkan masyarakat yang sehat.
Ketika masyarakat sehat, produktivitas meningkat dan pada akhirnya akan mendukung terwujudnya Indonesia yang maju.
Karena itu kami menyambut baik kolaborasi seperti ini dan berharap dapat terus berlanjut melalui berbagai program, termasuk pengembangan bank sampah maupun kegiatan edukasi lingkungan," katanya.
Maria menjelaskan bahwa kehadiran BRI di lokasi merupakan tindak lanjut atas undangan para pemuda pegiat lingkungan yang menginginkan adanya sinergi antara komunitas, pemerintah, dan sektor swasta dalam membangun budaya peduli lingkungan di Kabupaten Sorong Selatan.
Para pemuda menilai, persoalan sampah di kawasan Muara Saflas membutuhkan perhatian serius karena lokasi tersebut merupakan pintu masuk aliran sungai menuju laut yang setiap hari menerima kiriman sampah dari berbagai wilayah.
Tanpa upaya penanganan yang terintegrasi, tumpukan sampah diperkirakan akan terus meningkat dan mengancam kehidupan biota laut serta aktivitas masyarakat pesisir.
Menutup kegiatan tersebut, Govon A. Lemauk menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat, khususnya Bank BRI Cabang Teminabuan yang tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga turun langsung mengangkat sampah bersama para relawan.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Bank BRI Cabang Teminabuan atas dukungan dan keterlibatannya secara langsung dalam aksi bersih-bersih di Muara Saflas.
Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut sehingga gerakan menjaga lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab komunitas, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat Sorong Selatan," tutupnya.
Aksi ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah plastik di pesisir Sorong Selatan tidak dapat diselesaikan melalui kegiatan sesaat.
Diperlukan kebijakan yang berkelanjutan, peningkatan fasilitas pengelolaan sampah, edukasi kepada masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor agar sungai dan laut tetap menjadi ruang hidup yang aman bagi manusia maupun berbagai spesies endemik yang menjadi kekayaan alam Sorong Selatan.(Red)