Jambore Pemuda Adat Domberay 2026: Merawat Identitas, Merekoleksi Akar Budaya

Jambore Pemuda Adat Domberay 2026: Merawat Identitas, Merekoleksi Akar Budaya

Sorong, Melanesiapost.com — Sebanyak 30 pemuda-pemudi adat dari berbagai wilayah adat Domberay berkumpul di Rumah Etnik Papua, Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Rabu (5/8/2026). Mereka mengikuti Jambore Pemuda Adat Domberay 2026 yang diinisiasi oleh Domberay Creative Project (DCP) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Jambore ini digelar sebagai jembatan untuk merekoleksi dan menumbuhkan kembali nilai-nilai adat serta tradisi budaya yang dinilai mulai mengikis di kalangan generasi muda Papua. Melalui forum ini, para tetua adat dan penutur budaya di wilayah Domberay dapat menstransfer secara langsung pengetahuan ritual dan tradisi lokal kepada generasi penerus.

"Kegiatan ini kami maksudkan sebagai jembatan mewariskan budaya, tradisi, dan ritual adat dari para tetua kepada generasi muda penerus di tanah Papua, khususnya wilayah adat Domberay. Kami harap kita bisa kembali merekoleksi dan menumbuhkan nilai-nilai adat budaya yang mungkin mulai dilupakan atau bahkan kehilangan identitasnya," ujar Ketua Pelaksana DCP, Andrey Maryen, Rabu (5/8/2026).


Andrey menjelaskan bahwa seluruh proses kepanitiaan dan produksi acara dijalankan sepenuhnya oleh pemuda-pemudi asli Papua. Hal ini menjadi bukti bahwa generasi muda Papua mampu berdiri di kaki sendiri dan menjadi tuan di tanahnya sendiri.

Rangkaian jambore dijadwalkan berlangsung dari tanggal 5 hingga 10 Agustus 2026 di Rumah Etnik Papua, sebelum ditutup melalui malam puncak di Gedung Lambert Jitmau, Kompleks Perkantoran Wali Kota Sorong, pada 11 Agustus 2026. Acara puncak tersebut direncanakan dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Kebudayaan RI.

Selama satu pekan, para peserta akan mengikuti berbagai agenda penguatan kapasitas, seperti workshop budaya, sesi storytelling bersama tetua adat, pelatihan produksi foto dan video dokumenter budaya, hingga ruang kolaborasi lintas sub-suku di wilayah Domberay.

Prosesi pembukaan diawali dengan penyambutan ritual adat Mansorandak, pengalungan selempang, pertunjukan musik tradisional dari grup Belantara, serta tur keliling kawasan Rumah Etnik Papua dan Museum Budaya.


Kegiatan ini dibuka secara resmi melalui penabuhan tifa bersama oleh Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Papua Barat Daya, Winarto, S.S., dan Perwakilan Pemerintah Daerah yang hadir.

Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan RI, Dr. Julianus Limbeng, M.Si., mengapresiasi langkah inovatif pemuda adat Papua. Menurutnya, pemajuan kebudayaan di Papua tidak bisa bergantung hanya pada pemerintah daerah atau balai pelestarian semata, melainkan butuh sinergi lintas pihak, terutama generasi muda.

"Tanpa keterlibatan pemuda sebagai pemegang tongkat estafet, kekayaan budaya yang luar biasa di Tanah Papua ini sulit bertahan. Melalui jambore ini, para pemuda tidak hanya menimba pengalaman, tetapi juga memetakan potensi budaya sebagai aset berharga untuk identitas sekaligus kesejahteraan ekonomi masyarakat," kata Julianus.

Staf Ahli Bupati Sorong, Marthen Nebore, S.Sos., M.Si., yang hadir mewakili pemerintah daerah. Ia menilai ruang kolaborasi pemuda adat bersama pemerintah sangat penting untuk menggali kembali warisan kearifan lokal yang belum terekspos.

"Melalui kebudayaan dan nilai adat, kita menunjukkan identitas diri kita. Banyak potensi daerah yang belum terangkat dan ini bisa kita kembangkan bersama menjadi aset yang membanggakan," tutur Marthen.

Ketua Pelaksana DCP juga mengajak masyarakat luas di Papua Barat Daya untuk ikut menyaksikan dan berpartisipasi dalam rangkaian pertunjukan seni serta edukasi budaya di Rumah Etnik Papua hingga 10 Agustus mendatang. (Red)