Kasus Penyakit Jantung Bawaan Anak di Tanah Papua Cukup Tinggi

Kasus Penyakit Jantung Bawaan Anak di Tanah Papua Cukup Tinggi

SORONG KOTA, Melanesiapost – Data statistik menunjukkan tren yang memprihatinkan terkait kasus Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak di wilayah Papua. Berdasarkan estimasi nasional, satu dari seratus bayi lahir memiliki kelainan jantung bawaan. Dengan angka kelahiran mencapai 4,5 hingga 5 juta bayi per tahun di Indonesia, diperkirakan terdapat 45 ribu kasus PJB setiap tahunnya, di mana angka kasus di tanah Papua tergolong cukup tinggi.

Ketua IDAI Papua Barat dan Papua Barat Daya, Dr Sri Riyanti, Sp.A, mengungkapkan bahwa selama ini tantangan terbesar dalam menangani pasien jantung anak di Papua adalah kendala geografis dan biaya. "Kasus PJB di sini cukup banyak, namun kendala utama kami adalah biaya transportasi dan akomodasi jika harus merujuk pasien keluar daerah. Karena itu, kegiatan skrining massal seperti ini sangat krusial," ungkapnya di RSUD Sele Be Solu, pada Kamis (23/4/2026).


Dr. Sri menambahkan, melalui pelatihan USG-Echocardiography dasar yang diberikan oleh pengurus pusat IDAI kepada dokter spesialis anak di daerah, diharapkan diagnosis dapat ditegakkan lebih dini di Papua tanpa harus selalu mengirim pasien ke Jakarta. "Idealnya adalah mendatangkan tenaga ahlinya ke sini, bukan mengirim pasiennya ke sana yang menambah kerumitan bagi keluarga pasien," lanjutnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum PP IDAI, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengingatkan para orang tua di Papua untuk waspada terhadap tanda-tanda fisik pada anak. Menurutnya, gejala paling sederhana yang bisa dipantau adalah grafik pertumbuhan. Jika berat badan anak tidak naik secara signifikan dalam tiga bulan pertama, atau anak terlihat kelelahan dan terputus-putus saat menyusu, hal tersebut wajib dicurigai sebagai gejala PJB.

"Waspadai juga jika muncul warna biru di sekitar bibir, lidah, serta ujung tangan dan kaki. Segera bawa ke dokter anak, terutama saat jadwal imunisasi, agar dapat dipastikan melalui pemeriksaan fisik maupun Echocardiography," ujar Dr. Piprim.

Adanya temuan kasus serius dalam skrining gratis kali ini memperkuat urgensi pembangunan sistem kesehatan yang lebih terintegrasi di Papua Barat Daya. 

Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu menyatakan bahwa pemerintah provinsi terus berinvestasi pada masa depan bangsa dengan memastikan fasilitas kesehatan di daerah, seperti RSUD Sele Be Solu, RSUD J.P. Wanane, RSUD Raja Ampat, hingga RSUD Pratama Tambrauw, memiliki standar yang memadai.

Hadirnya pakar kardiologi anak seperti Prof. DR Dr Mulyadi M Djer, Sp.A, Subsp Kardio(K) dan Dr Rizky Adriansyah dalam kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal transformasi layanan jantung anak di Papua, sehingga anak-anak di Papua mendapatkan hak kesehatan yang setara dengan wilayah lain di Indonesia. (Red)