Lewat Jambore, Pemuda Adat Domberay Desak Pengesahan RUU Masyarakat Adat dan Tolak PSN Rusak Ruang Hidup

Lewat Jambore, Pemuda Adat Domberay Desak Pengesahan RUU Masyarakat Adat dan Tolak PSN Rusak Ruang Hidup

Sorong, Melanesiapost.com - Puncak rangkaian Jambore Pemuda Adat Domberay yang dikemas dalam Apresiasi Budaya Domberay di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Selasa (11/8/2026), menjadi ajang penyampaian sikap tegas generasi muda Papua. Memanfaatkan momentum Hari Masyarakat Adat Sedunia, para pemuda adat mendesak pemerintah untuk segera meratifikasi Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat serta menolak keberadaan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang merusak ruang hidup masyarakat adat.

Sikap tegas ini dituangkan dalam penyerahan dokumen resmi Aspirasi Pemuda Adat Domberay kepada Kementerian Kebudayaan dan Pemerintah Daerah. Dalam seruan tersebut, generasi muda menuntut jaminan agar PSN tidak lagi merenggut wilayah adat dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat lokal.

Selain penolakan terhadap ekspansi PSN dan tuntutan pengesahan RUU Masyarakat Adat, dokumen aspirasi tersebut menuntut penetapan masyarakat adat sebagai kompas utama dalam pemajuan kebudayaan, kepastian pembangunan yang tidak mengorbankan identitas lokal, hingga dukungan nyata agar pemuda dapat kembali ke kampung halaman untuk mempelajari tradisi dari para tetua.

Tuntutan tersebut merupakan buah pemikiran dari 30 pemuda-pemudi adat perwakilan berbagai suku di wilayah adat Domberay. Sebelum puncak acara, mereka menggalang gagasan selama enam hari di Rumah Etnik Papua, Kabupaten Sorong, melalui workshop budaya, diskusi kolaboratif, storytelling bersama para tetua, hingga produksi dokumenter visual untuk merekonstruksi nilai-nilai adat yang kian terancam.


Penyerahan dokumen aspirasi bertepatan dengan pelaksanaan parade kebudayaan yang dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Kebudayaan RI, H. Giring Ganesha Djumaryo, serta Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nasrau.

Merespons dinamika tersebut, Wakil Menteri Kebudayaan RI, Giring Ganesha Djumaryo, menyatakan bahwa kebudayaan merupakan pengetahuan hidup dan sumber kreativitas masa depan. Pihaknya mengapresiasi peran pemuda sebagai garda terdepan pelestarian budaya.

"Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan untuk merayakan kekayaan budaya masyarakat adat Domberay sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan warisan budaya leluhur. Budaya adalah kekuatan yang menyatukan dan menjadi fondasi masa depan," ujar Giring.

Sementara itu, Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nasrau, mengapresiasi terselenggaranya jambore dan berharap poin-poin yang dihasilkan tidak menguap begitu saja.

"Kegiatan Jambore Pemuda Adat Domberay ini sangat luar biasa sebagai ruang interaksi anak muda dalam pemajuan kebudayaan. Kami berharap kegiatan ini tidak sekadar seremonial. Kepada seluruh anak-anak adat Domberay, mari bersama-sama merawat dan melestarikan nilai-nilai tradisi masyarakat adat di Papua Barat Daya," tutur Ahmad Nasrau.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Domberay Creative Project (DCP) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat ini juga diisi dengan talkshow bertajuk “Pelindungan Budaya Masyarakat Adat secara Berkelanjutan”, pameran budaya, pemutaran film, pertunjukan seni teater Opera Anana Papua, fashion show etnik, dan diakhiri dengan penganugerahan Domberay Awards Night. (Red)