TPNPB-OPM Mengaku Bertanggung Jawab Atas Penembakan Pilot Asal AS dan Pembakaran Pesawat di Yahukimo
Yahukimo, Melanesiapost.com — Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) menyatakan bertanggung jawab atas aksi penembakan yang menewaskan seorang pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin, serta pembakaran pesawat komersial milik PT Associated Mission Aviation (AMA) Air tipe PK-RCY di Bandara Ipdeheik, Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan pada Kamis (2/7/2026).
Juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, menegaskan bahwa pasukannya menembak mati pilot tersebut karena dituduh melanggar larangan terbang (ultimatum) yang telah dikeluarkan kelompoknya untuk wilayah zona operasi mereka. Pihak TPNPB menuduh maskapai sipil kerap digunakan oleh otoritas keamanan Indonesia untuk mengangkut personel militer dan logistik ke wilayah pedalaman Papua yang terpencil.
Komandan TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Elkius Kobak, menyatakan bahwa eksekusi tersebut dilakukan atas perintah langsung darinya menyusul ketetapan zona darurat perang sipil di wilayah mereka.
"Penembakan terhadap pilot Amerika ini merupakan akibat dari kegagalan pemerintah Indonesia, dalam mengatasi akar masalah konflik di Papua, yang telah berlangsung selama 64 tahun," ucap Elkius Kobak. Ia juga menambahkan bahwa konflik berkepanjangan ini telah menyebabkan puluhan ribu warga sipil tewas dan ratusan ribu warga terpaksa mengungsi.
Merespons situasi tersebut, Komando Operasi (Koops) TNI Habema pada Jumat (3/7/2026) menggelar Operasi Khusus untuk menguasai kembali lapangan terbang Ipdeheik. Dalam operasi yang melibatkan 10 personel taktis tersebut, tim gabungan TNI berhasil mengevakuasi jenazah Nicholas F. Goselin menggunakan dua helikopter Caracal.
Wakil Panglima Koops TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto, menyampaikan ucapan belasungkawa yang mendalam kepada pihak keluarga korban serta menegaskan penegakan hukum intensif di wilayah Papua Pegunungan.
"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga almarhum. Prioritas kami adalah menyelamatkan korban, mengamankan lokasi, melindungi masyarakat, serta mendukung proses penegakan hukum terhadap para pelaku. Kami memastikan proses evakuasi dapat dilaksanakan secara cepat, aman, dan profesional," kata Riyanto. Bersamaan dengan evakuasi, aparat terus menyisir dan mengejar kelompok pelaku pembakaran.
Sementara itu, Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri (Deplu) menyatakan telah memantau ketat perkembangan situasi di lapangan dan membangun komunikasi intensif dengan pemerintah Indonesia serta keluarga korban. Pihak Deplu AS menegaskan bahwa keselamatan warga negaranya di luar negeri adalah prioritas tertinggi mereka saat ini.
"Kami mengetahui laporan mengenai kematian seorang warga negara AS di Papua dan sedang memantau situasi ini secara saksama bersama otoritas berwenang di Indonesia. Tidak ada prioritas yang lebih tinggi daripada keselamatan dan keamanan warga Amerika," demikian rilis resmi Departemen Luar Negeri AS.
Otoritas Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Indonesia sebelumnya mengonfirmasi bahwa pesawat tersebut mengangkut satu orang pilot dan tujuh penumpang. Setelah pilot melaporkan bahwa pesawat telah mendarat, komunikasi dengan petugas di landasan pacu kemudian terputus sepenuhnya. Seluruh penumpang dilaporkan selamat, sementara aparat TNI-Polri kini memperketat pengamanan di sekitar objek vital penerbangan sipil di Papua Pegunungan. (Red)