Rayakan HUT ke-3, Komunitas Anak Jalanan Sorong Luncurkan Film Dokumenter "Kesempatan Kedua"
AIMAS, Melanesiapost – Komunitas Anak Jalanan Kabupaten Sorong memperingati hari ulang tahunnya yang ketiga dengan meluncurkan sebuah karya film dokumenter berjudul "Kesempatan Kedua". Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran pejabat pemerintah daerah dan menjadi momentum bagi para pemuda jalanan untuk membuktikan semangat perubahan mereka.
Dalam acara tersebut, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Papua Barat Daya, Bernadus Asmuruf, S.Sos., hadir membacakan sambutan tertulis Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, S.Sos.
Gubernur Elisa Kambu memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif komunitas ini dalam menghadirkan film "Kesempatan Kedua". Menurutnya, karya ini bukan sekadar tontonan, melainkan cermin kehidupan nyata yang sarat pesan kemanusiaan.
"Kisah tentang perjuangan, kesempatan untuk harapan, dan bangkit dari keterbatasan menjadi pengingat bagi kita semua bahwa setiap anak bangsa memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan meraih masa depan yang lebih baik," ujar Bernadus Asmuruf saat membacakan sambutan Gubernur.
Pemerintah Provinsi menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pemberdayaan generasi muda, terutama bagi mereka yang berada dalam kondisi rentan. Gubernur juga mengajak masyarakat dan dunia usaha untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari solusi.
"Kepada adik-adik sekalian, jangan pernah menyerah dengan keadaan. Kalian adalah generasi penerus Papua Barat Daya yang memiliki masa depan cerah," tegasnya dalam naskah sambutan tersebut.
Ketua Komunitas Anak Jalanan Kabupaten Sorong, Kris Sefle, mengungkapkan bahwa komunitas yang ia pimpin selama tiga tahun ini merupakan wadah bagi anak-anak yang pernah terjerat kriminalitas dan keluar-masuk penjara untuk bertransformasi ke arah positif.
"Kami membentuk komunitas ini agar generasi muda bisa berubah. Ada beberapa bidang yang aktif, mulai dari olahraga hingga kesenian," kata Kris Sefle.
Kris juga memanfaatkan momentum ini untuk mengklarifikasi stigma negatif yang sering melekat pada anak jalanan, khususnya mereka yang bekerja sebagai juru parkir di Kabupaten Sorong. Ia menegaskan bahwa pekerjaan tersebut dilakukan demi memenuhi kebutuhan rumah tangga secara halal, bukan untuk hal-hal negatif.
"Kami di sini berusaha untuk berubah. Jangan melihat kami sebelah mata. Kami menjaga parkir bukan untuk (mabuk) minum atau mencuri, tapi untuk makan-minum keluarga. Walaupun hanya 1.000 atau 2.000 rupiah, itu sangat kami butuhkan," ungkapnya penuh harap.
Meski telah berupaya mandiri melalui berbagai kegiatan positif, Kris Sefle mengakui komunitasnya masih menghadapi kendala besar, yaitu ketiadaan fasilitas pembinaan yang memadai dari pemerintah setempat.
Ia berharap Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya maupun Pemerintah Kabupaten Sorong dapat menyediakan 'Rumah Binaan' sebagai pusat pelatihan dan rehabilitasi mindset bagi anak-anak yang masih terjebak dalam dunia kriminal.
"Kami sangat membutuhkan rumah binaan. Selama ini kami mengambil kebijakan sendiri untuk merubah mindset teman-teman karena belum ada tempat layak yang disediakan pemerintah. Kami mohon pemerintah bisa membantu menyediakan fasilitas tersebut," pungkas Kris.(Red)